Bukti Dungunya Tokoh JIL
“Apa yang dilakukan oleh Lia Aminudin, sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Kesalahan Lia sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad waktu munculnya Islam,” kata Luthfi Assyaukanie tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal) dalam sidang MK di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu, (17/2/2010) .
Tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) itu mengakui pernyataan itu sangat sensitif dan telah memikirkan secara matang tentang pernyataan tersebut.
Siapa Lia Aminuddin itu?
Pos Kota memberitakan, Ny. Aminudin alias Lia Eden akhirnya divonis 2,5 tahun penjara oleh majelis hakim PN Jakarta Pusat, Selasa (2/6 2009) sore.
Sementara Wahyu Andito, sebagai pelayanan penerima wahyu dari Lia Eden, juga divonis majelis hakim dengan 2 tahun penjara.
Lia Eden terbukti melakukan penistaan terhadap agama, yakni membuat beberapa risalah kepada Presiden RI SBY, Kejaksaan, Kepolisian dan beberapa lembaga Ormas Islam. Intinya, Lia Eden minta Agama Islam dihapuskan di Indonesia. (poskota.co.id, Selasa, 2 Juni 2009 – 17:55 WIB).
Bagaimana tokoh JIL itu bisa menyamakan kesalahan Lia Eden dengan apa yang dia sebut kesalahan Nabi Muhammad waktu munculnya Islam. Lia Eden jelas mau menghapus Islam, agama dari Allah Ta’ala; sedang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah untuk menghapus agama berhala kemusyrikan.
Menyamakan Lia Eden yang mau menghapus Islam dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berdakwah menghapus kemusyrikan adalah lebih buruk sama sekali dibanding anak kecil yang menyamakan antara babi dan unta. Orang yang sedang naik unta pun akan marah ketika dikatakan naik babi.
Sebegitu dungunya orang JIL ya?
Ya ya… padahal itu sudah berkedudukan sebagai saksi ahli dari JIL tuh!
Pantas saja di mana-mana jadi buah bibir yang tak sedap. Lha wong kayak gitu…
Sudah seperti itu, masih pula mengaku bahwa itu sudah dia pikirkan secara matang. Yang diakui sudah dipikirkan secara matang saja seperti itu, lha yang belum seperti apa ya?
Berita tentang pernyataan tokoh JIL itu sebagai berikut:
detikcom – Kamis, 18 Februari
Saksi ahli pemohon kasus penghapusan UU Penodaaan Agama, Luthfie Assyaukanie menilai kasus Lia Eden sama dengan awal penyebaran Islam oleh nabi Muhammad SAW. Selain itu, tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) ini menilai negara tidak perlu campur tangan dalam beragama dan keimanan seseorang.
“Apa yang dilakukan oleh Lia Aminudin, sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Kesalahan Lia sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad waktu munculnya Islam,” kata Luthfi Assyaukanie dalam sidang MK di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu, (17/2/2010) .
Luthfie yang mendirikan JIL bersama Ulil Abshar Abdalla ini juga menilai negara tidak boleh mengatur penafsiran agama. Dia memberikan contoh Hambali, pendiri Madzhab Hambali juga dipenjara karena beda penafsiran agama.
UU 1/1965, kata dia, mendorong kekacauan. Siapa yang membuat kerusuhan dan keonaran adalah mereka yang merasa secara absah membuat kebrutalan karena UU tersebut.
“Siapa bilang negara ini memiliki kebebasan agama? Seperti data Freedom House dan Freedom Institute, Indonesia teratas dalam ketidakkebebasan beragama. Selama mereka mempunyai dasar hukum, maka mereka susah diberantas. Negara maju tak mengurusi iman seseorang,” beber peraih PhD tentang Studi Islam dari Melbourne University Australia itu.
Penyataan Luhfie membuat suasana sidang di MK memanas. Pihak terkait dari Muhammadiyah, NU, MUI, DDII pun sontak langsung mengajukan keberatan dan pertayaan. Sidang hingga saat ini masih berlangsung. “Munafik!,” teriak massa dari balkon sidang.
detikcom – Kamis, 18 Februari
Samakan Kasus Lia Eden dengan Nabi Muhammad, Tokoh JIL Minta Maaf
Saksi ahli dari pemohon penghapusan UU Nomor 1/1965 Tentang Penodaan Agama, Luthfie Assyaukanie akhirnya meminta maaf atas pernyataannya yang menyamakan kasus penyebaran agama oleh Lia Eden dengan Nabi Muhammad. Tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) itu mengakui pernyataan itu sangat sensitif dan telah memikirkan secara matang tentang pernyataan tersebut.
“Saya di ruang kelas selalu berpikir apakah menyembunyikannya atau membukanya. Saya sudah konsultasi ke teman-teman tentang pernyataan ini apakah harus diungkapkan atau tidak. Dan saya sudah mengoreksi draft untuk MK hingga beberapa kali,” kata Luthfi Assyaukanie dalam sidang MK di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu, (17/2/2010) .
“Saya juga memahami penyataan saya akan mengundang kontroversi seperti oleh perwakilan MUI tadi. Saya minta maaf kalau ini melukai,” tambah dia.
Peraih PhD Studi Islam dari Melbourne University ini mengaku bahwa kata menyamakan kesalahan antara Lia Eden dan Nabi Muhammad merupakan contoh ekstrem. Menurut dia, awalnya Islam salah menurut orang Quraisy. Muhammad lalu dikejar-kejar oleh kelompok mayoritas. Hal ini sama dengan sekarang, Lia Eden. “Kami cuma mau memberikan contoh yang ekstrem,” kilahnya.
Alumnus Jordan University ini juga meluruskan pemahaman penyamaan sekulerisasi dan sekulerisme menanggapi pernyataan hakim konstitusi. Menurut dia, sekulerisasi muncul jauh sebelum ada sekulerisme. Sekulerisasi memisahkan agama dengan dunia dalam pengertian positif.
“Dan awalnya, sekulerisasi bukan tendensi untuk memojokkan agama. Tapi satu abad setelah itu, muncul sekulerisasi pada awal renaissance yang cenderung atheis,” pungkasnya.
Pernyataan ini membat suasana balkon, yang sebagian besar dipenuhi kelompok pendukung UU Nomor 1/1965 langsung memberikan komentar tidak sedap. Sebagian mencaci maki dan sebagian mengumpat. “Munafik,!” teriak salah satu orang.
http://id.news.yahoo.com/dtik/20100217/tpl-samakan-kasus-lia-eden-dengan-nabi-m-b28636a.html
Pendapat yang tidak bisa membedakan mana emas dan mana kotoran hanya karena sama-sama warnanya kuning seperti itu, apabila oleh Mahkamah Konstitusi (MK) pimpinan Mahfud MD dijadikan bagian dari landasan pertimbangan dalam memutuskan hukum, maka betapa kacaunya. Kita tunggu saja, apakah orang MK akan lebih dungu dibanding tokoh JIL atau tidak. (nahimunkar.com).
Baca Juga:
Dedengkot JIL Hina Rosulullah SAW , Samakan Rosulullah Saw dengan Lia Eden !
Sebagaimana yang diberitakan detik.com (Rabu, 17/02) , saksi ahli pemohon kasus penghapusan UU Penodaaan Agama, Luthfie Assyaukanie menilai kasus Lia Eden sama dengan awal penyebaran Islam oleh nabi Muhammad SAW.
“Apa yang dilakukan oleh Lia Aminudin, sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Kesalahan Lia sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad waktu munculnya Islam,” kata Luthfi Assyaukanie dalam sidang MK di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu, (17/2/2010) .
Penyataan Luhfie membuat suasana sidang di MK memanas. Pihak terkait dari Muhammadiyah, NU, MUI, DDII pun sontak langsung mengajukan keberatan dan pertanyaan. “Munafik!,” teriak massa dari balkon sidang.
Dalam penjelasan tambahannya saat meminta maaf, Luthfi mengatakan mengaku bahwa kata menyamakan kesalahan antara Lia Eden dan Nabi Muhammad merupakan contoh ekstrem. Menurut dia, awalnya Islam salah menurut orang Quraisy. Muhammad lalu dikejar-kejar oleh kelompok mayoritas. Hal ini sama dengan sekarang, Lia Eden. “Kami cuma mau memberikan contoh yang ekstrem,” kilahnya.
Pernyataan Luthfi seperti ini jelas merupakan penghinaan terhadap Rosulullah saw. Memang benar Rosulullah saw pada awalnya dikejar-kejar oleh kolompok mayoritas di Makkah. Tapi menyamakan dengan posisi Lia Eden adalah keliru besar. Rosulullah SAW mengalami penindasan karena memperjuangkan yang ajaran dan risalah hak yakni dinul Islam yang bersumber dari Allah SWT . Rosulullah SAW juga ditindas oleh pemimpin kafir Quraisy yang kejam dan jahiliyah.
Tentu saja sangat berbeda dengan Lia Eden, yang membawa ajaran batil dengan menganggap dirinya malaikat jibril yang menyampaikan wahyu. Lia juga mengaku sebagai Imam Mahdi, pemimpin yang dijanjikan akan muncul menjelang hari Kiamat. Karena itu, Lia pun membaiat Ahmad Mukti, salah seorang di antara empat anaknya, menjadi Nabi Isa.
Bukan kali ini para dedengkot JIL mengeluarkan pernyataan yang menghina Islam. Salah satu dedengkot JIL Ulil Abshor Abdallah pernah menyatakan “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.” (Majalah GATRA, 21 Desember 2002).
Dedengkot JIL lain seperti Sumanto pernah menyamakan Rosulullah SAW dengan orang-orang kafir sepert Ghandi, Romo Mangun dan Bunda Teresa. “Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil menunjukkan surga-Nya yang mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain, Jesus, Muhammad, Sahabat Umar, Ghandi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!” (Sumanto Al Qurtuby, Lubang Hitam Agama, Rumah Kata, Yogyakarta, 2005, hal. 45).
Wajar kalau mereka menginginkan agar UU Penodaan agama dihilangkan , agar mereka dengan bebas menghina Islam dan Rosulullah saw. Selama ini mereka menyatakan UU penodaan agama menimbulkan ketidaktenangan masyarakat, bukankah pernyataan mereka yang keji inilah yang menimbulkan kemarahan umat ?(FW/Mediaumat.com)
Iblis yang nyata-nyata dilaknat Allah saja tidak pernah menyatakan KESALAHAN NABI, ini kok ada manusia yang menyatakannya, berarti dia lebih LAKNAT dibandingkan dengan IBLIS…
sinting kaleeeeee
dungunya tokoh jil,penghinaan terhadap ajaran islam sudah sangat menyebar ke masyarakat,ini sangat membahayakan sekali. orang2 libral begitu beraninya menghina nabi muhammad saw,ajaran nabi muhammad saw,mereka orang2 leberal menghina nabi muhammad saw karena dikarnakan uang,harta benda, subhanallah… begitulah orang yg terlalu cinta terhadap dunia,sehingga berani agamanya di jual…! saya hanya memohon kepada allah swt agar mereka2 itu secepatnya dimusnakan.. amiiin..!
Waspadai syetan dengan segala hasutannya, hasutannya bukan hanya ajakan dalam berbuat kemaksiatan (berjudi, mabuk-mabukan, berzina, tidak sholat, tidak puasa, tidak melakukan amal ibadah) alias itu sudah ketahuan jelas, tetapi yang samar-samar adalah hasutan dalam beramal ibadah itusendiri. Merasa dia paling benar, paling suci, mencampuradukkan hukum-hukum Ilahi dengan hawa nafsu dan pikiran logika (Lia Eden cs), dedengkot JIL, bertaubatlah…,mohon ampunan Allah, dan kembali keajaran yang benar yaitu Dinulloh berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadist nabi Muhammad SAW. Silahkan gunakan hati nurani, tanya hatimu yang paling dalam sebelum berbuat, "apakah perbuatan ini dan itu baik atau tidak, benar atau salah, Allah ridho atau tidak?" hati pasti menjawab dengan jujur, hati tidak pernah berbohong. by Mauluddin Lubis (DPF)
Kalau lah sahabat Nabi 'Umar' masih hidup, orang2 semacam ini akan diapakan sama dia ya?', Kalau aku punya kuasa, sudah kucabut lidah2 lidah2 mereka